Pernahkah Anda membayangkan mumi Mesir digunakan sebagai bahan bakar kereta api? Pada abad ke19, obsesi Eropa terhadap Mesir kuno justru berubah menjadi praktik yang mengerikan. Ribuan mumi digali dan digunakan untuk hal yang tidak masuk akal mulai dari bahan bakar lokomotif hingga bahan pewarna lukisan bernama “Mummy Brown”. Mengapa ini terjadi dan bagaimana sejarah kelam ini berakhir? Mari kita bahas sisi komersial mumi yang sangat tidak etis di masa lalu. Tonton sampai habis!
Pada abad ke-19, dunia dilanda fenomena “Egyptomania” atau obsesi besar terhadap segala sesuatu yang berbau Mesir kuno. Namun, di balik antusiasme akademik, tersimpan sebuah bab sejarah yang gelap dan memuakkan. Mumi, yang seharusnya dihormati sebagai peninggalan leluhur, justru diperlakukan layaknya komoditas barang dagangan yang murah dan melimpah.
Karena jumlah mumi yang ditemukan di situs-situs Mesir sangat banyak, para pedagang saat itu kehilangan rasa hormat terhadap nilai sejarahnya. Salah satu praktik yang paling mengerikan adalah penggunaan mumi sebagai bahan bakar lokomotif kereta api. Ketika pasokan kayu dan batu bara sulit didapat, perusahaan kereta api di Mesir dikabarkan menggunakan sisa-sisa mumi yang sudah dibalut perban—yang mengandung resin yang mudah terbakar—sebagai bahan bakar pemanas mesin. Ini adalah ironi sejarah: sebuah tubuh yang diawetkan untuk keabadian, justru habis terbakar dalam hitungan menit demi menjalankan mesin transportasi.
Tak berhenti di situ, dunia seni pun ikut serta dalam eksploitasi ini. Seniman Eropa abad ke-16 hingga ke-19 sangat menggemari cat warna “Mummy Brown”. Cat ini dibuat dengan cara menggiling sisa-sisa tubuh mumi yang dicampur dengan resin dan mur. Warna cokelat unik yang dihasilkan dianggap memberikan efek bayangan yang sempurna bagi lukisan-lukisan klasik. Para pelukis saat itu seringkali tidak menyadari—atau memilih untuk tidak peduli—bahwa mereka sedang menggoreskan sisa-sisa manusia di atas kanvas mereka.
Praktik ini baru mulai mereda menjelang awal abad ke-20 ketika kesadaran akan pentingnya pelestarian arkeologi mulai tumbuh. Ilmuwan dan masyarakat dunia mulai menyadari bahwa mumi bukanlah komoditas komersial, melainkan saksi bisu peradaban manusia yang harus dilindungi. Hari ini, sisa-sisa cat “Mummy Brown” yang masih ada di museum menjadi pengingat pahit akan keserakahan manusia di masa lalu. Sejarah kelam ini mengajarkan kita bahwa terkadang, rasa ingin tahu manusia yang tidak dibarengi dengan etika dapat berubah menjadi tindakan yang sangat tidak manusiawi. Begitulah kisah tragis mumi yang “dimakan” oleh kemajuan industri dan seni di masa silam.
#Mumi #SejarahDunia #FaktaUnik #MesirKuno #MummyBrown #SejarahKelam #Edukatif #Arkeologi #FaktaSejarah #Misteri #Sejarah #Edukasi #VideoSejarah #InfoMenarik
