Saturday, August 1

Frekuensi Tengah Malam: Siapa Sosok di Balik Penelepon Misterius Itu?

Setiap jam 2 pagi, frekuensi radio selalu menyisakan satu suara: seorang pendengar setia yang selalu curhat tentang kesepiannya. Suaranya berat, lirih, dan penuh rahasia. Sebagai penyiar radio malam, aku merasa terikat dengan ceritaceritanya. Namun, sebuah kejanggalan muncul saat aku menyadari suara di radio itu terdengar sama persis dengan suara langkah kaki di balik dinding kamarku. Malam ini, aku memutuskan untuk tidak menutup siaran sebelum tahu siapa sosok di balik telepon itu. Tetangga atau ancaman?

Frekuensi yang Terhubung

Lampu “ON AIR” berwarna merah itu satu-satunya cahaya di studio kecilku. Di luar, kota Jakarta sudah mati suri, menyisakan deru mesin kendaraan sesekali di kejauhan. Pukul 02.15 pagi, telepon di meja siaran berdering—seperti biasa, penelepon tetapku.

“Halo, dengan siapa di mana?” tanyaku dengan suara serak khas jam malam.

“Kau tahu siapa aku,” jawab suara di seberang sana. Berat, dingin, namun ada nada melankolis yang membuat bulu kudukku berdiri.

Dia mulai bercerita. Tentang rasa sepi, tentang dinding apartemen yang tipis, tentang bagaimana dia bisa mendengar suaraku yang tertawa atau batuk di balik tembok pembatas. Aku selalu menanggapi curhatannya dengan empati, menganggapnya sebagai pendengar yang kesepian. Namun malam itu berbeda. Saat dia bercerita tentang suara pintu kamarku yang berderit, aku sadar—dia tidak sedang melihat lewat siaran radio. Dia berada tepat di seberang tembok.

Rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Aku memutar rekaman musik, membiarkan fader mikrofon tertutup, lalu perlahan berjalan keluar studio menuju lorong apartemen. Hening. Hanya bunyi detak jam dinding yang terdengar menyiksa.

Aku sampai di depan pintu kamar sebelah—kamar yang selama ini kosong menurut pengelola apartemen. Dengan tangan gemetar, aku mengetuk pintu itu. Tidak ada jawaban, namun dari balik pintu, terdengar suara feedback radio yang sangat familiar. Suara siaranku sendiri, tertunda beberapa detik.

Aku memutar kunci pintu yang ternyata tidak terkunci. Di dalam, hanya ada sebuah meja, kursi, dan sebuah radio tua yang menyala dengan frekuensi yang tepat sama denganku. Di atas meja, tertumpuk catatan harian berisi detail kegiatanku sehari-hari.

Pintu kamar di belakangku menutup dengan sendirinya. Sebuah bisikan terdengar tepat di telingaku, “Akhirnya, kau datang juga untuk mendengar cerita terakhirku.”

Aku tidak pernah kembali ke studio radio itu lagi. Dan sejak malam itu, frekuensi radio malam selalu kosong, seolah-olah sang penyiar sendiri yang telah ditarik masuk ke dalam cerita yang ia buat.

#MisteriRadio #CeritaHoror #PenyiarRadio #HororIndonesia #PodcastMisteri #Storytelling #KisahMisteri #ThrillerIndonesia #MalamJumat #CeritaPendek #HororThriller #AudioDrama #MisteriTetangga #RadioMalam #CeritaMalam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *